SURVEI
PRILAKU MASYARAKAT DAN MONITORING RESISTENSI INSEKTISIDA (INDOOR RESIDUAL
SPRAYING ) DI DESA KEUNEKAE KECAMATAN
SUKAJAYA KOTA SABANGPROPINSI
ACEH TAHUN 2017
Sampai
saat ini malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dinegara-negara
seluruh dunia, baik didaerah tropis maupun sub tropis, terutama dinegara
berkembang termasuk Indonesia.Malaria masih menjadi ancaman bagi masyarakat di
Indonesia, karena tingginya angka kesakitan dan kematian pada usia produktif.
Bahkan malaria yang menyerang ibu hamil bisa menjadi ancaman bagi bangsa.
Malaria juga masih menjadi masalah
kesehatan global yang menimbulkan angka kesakitan yang tinggi serta kematian
terutama pada kelompok risiko tinggi 657 disamping dampak sosial ekonominya
terhadap penduduk terutama pada negara berkembang dengan iklim tropis dan
subtropis. Malaria merupakan salah satu indikator dari target Pembangunan
Milenium (MDGs) dan masih menjadi endemik di 106 negara di seluruh dunia dan
menyebabkan kematian 80.000 setiap tahunnya ( http://jurnal.fk.unand.ac.id Jurnal
Kesehatan Andalas. 2016)
Pada tahun 2010 di Indonesia terdapat
65% kabupaten endemis dimana hanya sekitar 45% penduduk di kabupaten tersebut
berisiko tertular malaria. Berdasarkan hasil survei komunitas selama 2007 –
2010, prevalensi malaria di Indonesia menurun dari 1,39 % (Riskesdas 2007)
menjadi 0,6% (Riskesdas 2010). Sementara itu berdasarkan laporan yang diterima
selama tahun 2000- 2009, angka kesakitan malaria cenderung menurun yaitu
sebesar 3,62 per 1.000 penduduk pada tahun 2000 menjadi 1,85 per 1.000 penduduk
pada tahun 2009 dan 1,96 tahun 2010. Sementara itu, tingkat kematian akibat
malaria mencapai 1,3%. Walaupun telah terjadi penurunan Annual Parasite
Incidence (API) secara nasional, di daerah dengan kasus malaria tinggi
angka API masih sangat tinggi dibandingkan angka nasional, sedangkan pada
daerah dengan kasus malaria yang rendah sering terjadi kejadian Luar Biasa
(KLB) sebagai akibatadanya kasus impor. Pada tahun 2011 jumlah kematian malaria
yang dilaporkan adalah 388 kasus (Kemenkes, 2013).
Nyamuk Anopheles sp. merupakan faktor
utama penular penyakit malaria. Berperan sebagai vektor malaria, spesies Anopheles
berbeda disetiap daerah tergantung pada daerah dan lingkungan (geografis).
Setiap daerah dengan kondisi geografi
yang berbeda mempunyai
spesies spesifik, bioekologi, habitat, penyebaran dan kepadatan yang berbeda.
Keberadaan dan kelangsungan hidup Anopheles sangat dipengaruhi oleh
kondisi tempat perkembangbiakannya (breeding site). Kondisi tempat
perkembangbiakan nyamuk sangat ditentukan oleh keadaan lingkungan yang ada,
seperti suhu, kelembaban, curah hujan dan sebagainya. Semua vektor hidup sesuai
dengan kondisi ekologi setempat, antara lain ada yang hidup di air payau pada
tingkat salinitas tertentu (An. sundaicus, An. subpictus), ada hidup di
sawah (An. aconitus), air bersih di pegunungan (An. maculatus),
genangan air yang dapat sinar matahari (An. punctulatus, An. farauti).
Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan nyamuk, yaitu lingkungan
abiotik, biotik maupun sosial budaya. Lingkungan abiotik meliputi suhu,
kelembaban, topografi, pH, salinitas, dan lain-lain. Suhu merupakan karakteristik
tempat perkembangbiakan yang mempengaruhi perkembangan, pertumbuhan, adaptasi
dan sebaran geografik nyamuk. Nyamuk berkembang biak secara normal pada suhu
optimum (25ºC-27ºC). Pada suhu yang rendah akan menghambat pertumbuhan jentik
sedangkan pada suhu yang tinggi akan mematikan jentik. Lingkungan biotik
meliputi keberadaan flora dan fauna di daerah tempat perkembangbiakan nyamuk Anopheles
sp. Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat
mempengaruhi kehidupan larva karena dapat menghalangi sinar matahari atau
melindungi dari serangan makhluk hidup lainnya (Arsin, 2012)
Distribusi
Plasmodium biasanya tidak merata. Plasmodium vivax tersebar di
daerah tropis, subtropis, dan beriklim panas seperti daerah Timur Tengah, Iran,
Pakistan, Bangladesh, India, Sri Langka, Myanmar, Thailand, Malaysia,
Indonesia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, serta Afrika Bagian Tengah dan Bagian
Timur. Penyakit malaria ini telah menjadi masalah di 100 negara di dunia dan
menimpa lebih dari 2 juta penduduk. Diperkirakan dalam setahun malaria menyerang
300 juta penduduk, dan 90% ada di Negara tropis Afrika. WHO (World Health
Organisation) menjelaskan hingga tahun 2005 malaria masih menjadi masalah
kesehatan utama di 107 negara. Penyakit ini menyerang sedikitnya 350-500juta
orang setiap tahunnya dan bertanggung jawab terhadap sekitar 1 juta kematian
setiap tahunnya. Indonesia diperkirakan 50% penduduknya masih tinggal di daerah
endemis malaria. Menurut perkiraan WHO, tidak kurang dari 30 juta kasus malaria
terjadi setiap tahunnya dengan 30 ribu kematian (Nurdin, 2011)
Berdasarkan
The World Malaria Report (2011) melaporkan bahwa sampai tahun 2010
tercatat 216 juta kasus malaria diantara 3,3 miliar penduduk dunia yang
berisiko terkena penyakit malaria. Pada tahun 2010 tercatat 655.000 orang
meninggal akibat malaria diseluruh dunia dan 86% diantaranya adalah anak-anak
kurang dari 5 tahun. Sebanyak 91% kematian akibat malaria terjadi di Afrika
(WHO, 2011) Di Indonesia, malaria ditemukan hampir di semua wilayah. Menurut
laporan Riset Kesehatan Dasar menunjukkan pada tahun 2011 terdapat 374
kabupaten endemis malaria dan diperkirakan ada 256.592 kasus malaria dengan jumlah
kematian akibat malaria sebesar 388 orang (Kemenkes RI, 2010). Oleh karena itu
penyakit malaria menjadi target pemerintah untuk dieliminasi secara bertahap
sampai tahun 2030. Sesuai dengan Keputusan Menkes No. 293/Menkes/SK/IV/2009
tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi malaria di Indonesia.
Salah satu jenis pengendalian vektor malaria untuk
nyamuk Anopheles dewasa adalah pengendalian kimiawi dengan metode Indoor
Residual Spray/IRS, yaitu menyemprotkan insektisida tertentu dengan
jumlah (dosis) yang telah ditentukan secara merata pada permukaan dinding rumah
dengan tujuan untuk memutuskan mata rantai penularan malaria (WHO, 2006). IRS adalah
Penyemprotan rumah dengan efek residual (IRS = Indoor Residual Spraying), telah
lama dilakukan dalam pemberantasan malaria di Indonesia. Sampai sekarang cara ini masih dipakai karena
dipandang paling tepat dan besar manfaatnya untuk memutuskan transmisi, murah
dan ekonomis. Penyemprotan IRS dilakukan dengan menempelkan racun serangga
tertentu dengan jumlah (dosis) tertentu secara merata pada permukaan dinding
yang disemprot dengan tujuan untuk memutus rantai penularan karena umur nyamuk
menjadi lebih pendek sehingga tidak sempat menghasilkan sporozoit didalam
kelenjar ludahnya (Depkes, 2003).
Jenis insektisida
yang dipakai salah satunya adalah Bendiocarb 80
WP. Insektisida ini merupakan satu-satunya insektisida residual dari
golongan karbamat yang diperbolehkan penggunaannya dalam pengendalian nyamuk
vektor malaria (Depkes RI, 1985).
Larutan yang digunakan dalam penyemprotan
IRS umumnya berupa suspensi, sehingga meninggalkan lapisan tipis serbuk putih
(residu) pada permukaan dinding yang disemprot. Jenis permukaan dinding sangat
mempengaruhi efek residu karena komposisi dan porousitasnya yang berbeda. Untuk
benda dengan komposisi padat, maka porousitasnya semakin kecil, hal ini dapat
menyebabkan larutan insektisida tidak dapat terserap secara utuh oleh benda
atau dinding sehingga akan mengurangi persistensi insektisida.
Masalah
yang dihadapi dalam pengendalian vektor di Indonesia antara lain kondisi
geografi dan demografi yang memungkinkan adanya keberagaman vektor, belum
terindentifikasinya spesies vektor (pemetaan sebaran vektor) di semua wilayah
endemis, belum lengkapnya peraturan penggunaan pestisida dalam pengendalian
vektor, peningkatan populasi resisten beberapa vektor terhadap pestisida
tertentu, keterbatasan sumber daya baik tenaga, logistik maupun biaya
operasional dan kurangnya keterpaduan dalam pengendalian vektor (Kemenkes,
2012).
Kota
Sabang memiliki 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Sukakarya dan Kecamatan
Sukjaya. Kota SabangPropinsi Aceh telah menjadi daerah eliminasi malari dari
tahun 2013 dan menerima sertifikat eliminasi malaria pada tahun 2014. Untuk
mendukung daerah yang sudah eliminasi malaria, maka BTKLPP Medan dalam upayamonitoring
dan pengendalian vektor di Kota Sabang
Kec. Sukakaryamelakukan kegiatan survey perindukandan survey vektor nyamuk Anopheles sp.
Mendukung komitmen
global melalui MDGs, pemerintah Indonesia menyusun rencana dalam
rangka eliminasi malaria di Indonesia, dengan
bertahap sebagai berikut :
a. Eliminasi DKI pada tahun 2010, Bali dan Batam dalam proses
untuk eliminasi
b. Eliminasi Jawa, NAD, Kepri pada tahun 2015
c. Eliminasi Sumatera, NTB, Kalimantan, Sulawesi pada tahun 2020
d. Eliminasi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, NTT pada tahun 2030.
b. Eliminasi Jawa, NAD, Kepri pada tahun 2015
c. Eliminasi Sumatera, NTB, Kalimantan, Sulawesi pada tahun 2020
d. Eliminasi Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, NTT pada tahun 2030.
Sasaran seluruh penduduk yang
berisiko terkena malaria, terutama
yang berada di
daerah endemis malaria (http// www.dep.kes.go.id).
Didalam keputusan Menteri Kesehatan RI
Nomor 374/ Menkes/ Per/ III/ 2010
tentang Pengendalian vektor yang menyebutkan bahwa untuk
mengetahui jenis vektor yang beresiko menularkan penyakit maka perlu dilakukan
survey vektor. Survey vektor merupakan semua kegiatan atau tindakan yang
ditujukan untuk mengidentifikasi jenis vektor sehingga dapat diketahui resiko
untuk terjadinya penularan penyakit tular vektor di suatu wilayah dan
menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga penularan penyakit dapat
dicegah. Survey vektor dapat dilakukan dengan metode penangkapan nyamuk,
perlakuan dan identifikasi.
Berdasarkan permasalahan diatas maka BTKL PP Medan sebagai unit pelaksana
teknis Kementerian Kesehatan dalam upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
dan mempunyai wilayah layanan meliputi
Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Propinsi Aceh perlu melakukan suatu
survei perilaku masyarakat tentang
penyakit malaria dan penyemprotan dinding rumah menggunakan insektisida serta
uji efikasi insektisidapada dinding
rumah.
1.1. MAKSUD DAN TUJUAN
a. Maksud
Kegiatan
· Untuk
mengetahui pengetahuan, sikap dan
tindakan masyarakat tentang penyakit malaria dan penyemprotan dinding rumah
dengan insektisida.
· Uji
efikasi penyemprotan insektisida pada dinding rumah masyarakat.
b. Tujuan
Kegiatan
· Mendeskripsikan
karakteristik masyarakat ( umur, pekerjaan, jumlah anggota keluarga, lama tinggal, pendidikan dan
penghasilan)
· Mendeskripsikan
perilaku (Pengetahun, Sikap dan Tindakan) masyarakat tentang penyemprotan
insektisida pada dinding rumah
· Mendeskripsikan
kasus malaria
· Mendeskripsikan
hasil observasi lingkungan dalam dan luar rumah
· Mendeskripsikan
efektifitas penyemprotan insektisida pada dinding rumah
1.2.
RUANG LINGKUP
1. Waktu pelaksanaan
Kegiatan uji resistensi Residu pada
dinding rumah (Monitoring Resistensi Insektisida)pada tanggal 24-26 Nopember
2018.
2. Tempat
Kegiatan
Monitoring Resistensi Insektisida di Desa Kneukaie Kecamatan Sukaraja Kota Sabang tahun 2017
3. Kegiatan
a. Survei
prilaku masyarakat tentang IRS (Indoor Residual Spraying)
b.
Melakukan Uji Resistensi Insektisida pada dinding rumah yang sidah disemprot
setelah 6 bulan penyemprotan
c.
Melakukan penangkapan nyamuk Anopheles
4. Permasalahan
Bagaimana
perilaku masyarakat tentang penyemprotan insektisida pada dinding rumah yang
dilakukan dan bagaimana kerentanan
insektisida pada dinding rumah di Desa Kneukaie Kecamatan Sukaraja Kota Sabang tahun 2017
1.3. DASAR HUKUM
Dasar
hukum pelaksanaan kegiatan adalah:
a. Undang
- Undang nomor 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular
b. Undang
- Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan
c. Peraturan
Pemerintah nomor 40 tahun 1991 tentang PenanggulanganWabah Penyakit Menular
d. Permenkes
nomor 560 tahun 1989 tentang Jenis penyakit tertentu yang dapat menimbulkan
wabah, tata cara penyampaian laporan dan tata cara penanggulangannya.
e. Permenkes
nomor 949 tahun tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini
Kejadian Luar Biasa (KLB)
f. Keputusan
Menteri Kesehatan 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem
Surveilans Epidemiologi Kesehatan
Peraturan
Menteri Kesehatan 2349 tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit
Pelaksana Teknis di Bidang Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyaki
Komentar
Posting Komentar